Postingan

Pelanggaran HAM dan Ajaran Islam

Pelanggaran HAM dan A jaran Islam oleh Hizba Muhammad Abror, anggota Bidang TKK PK IMM FAI UMY “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” -QS. Ali-Imran 110 Hak asasi manusia sejak awal digaungkannya menjelaskan bahwa HAM adalah hak yang melekat bagi setiap manusia yang meliputi hak hidup, kepemilikan, dan berekspresi. John Locke mengatakan bahwa hak asasi manusia ialah hak yang dimiliki oleh seseorang secara alamiah. Hak ini meliputi hak atas kebebasan, kesamaan dan hak menyatakan pendapat.   (Budiardjo, 2008) sejak kelahirannya yang mana secara pragmatis bahwa hak asasi manusia ini di deklarasikan sebagai bentuk perlwanan dan pembatasan atas kekuasaan pemerintah melihat bahwa penguasa pada saat itu bertindak ...

Politik Kampus: Takhayul Politik Nilai

Politik Kampus: Takhayul Politik Nilai Oleh: Hizba M.A "Sayangnya saat ini, politik nilai yang diagung-agungkan oleh mahasiswa hanyalah takhayul. Nilai yang seharusnya menjadi  bargaining power  bagi tiap partai jatuh dan terhalang. Konsolidasi tak menentu, tanpa gagasan yang tentu, lalu diskursus hanya dipenuhi sesebaran aib lawan." Mahasiswa. Mereka yang mendesak Bung Karno untuk proklamasi dan mereka juga yang melengserkan Pak Harto lalu mencetuskan reformasi. Akal, nalar, dan naluri membuat mahasiswa tetap tegak dengan idealismenya yang tak goyah dengan berbagai desakkan kepentingan. Saya mengatakan inilah yang disebut pikiran otentik dari rasio dan rasa yang kokoh di atas idealisme. Politik nilai, adalah politik yang murni sebagaimana awal mula lahirnya politik dari yunani seperti yang dicontohkan oleh para filsuf seperti plato dan aristotle. Yang murni hanya untuk maslahat bersama. Siasat yang disusun dan dijalankan untuk mendistribusikan keadilan hingga l...

Filososfi Al-Alaq 1-5: Seruan pada Gerakan Literasi

F ilosofi Al-‘Alaq 1-5: Seruan pada Gerakan Literasi Oleh:    Hizba M.A             Tulisan ini terinspirasi dari materi Tafsir Qur’an-Hadits Pendidikan beberapa hari yang lalu pada prodi Pendidikan Agama Islam yang diampu oleh Pak Fajar Rachmadhani. Bahkan hampir dari semua isi dalam tulisan ini merupakan apa yang disampaikan beliau pada hari itu. Dan saya hanya menuliskan serta sedikit menambahkannya secara terstruktur agar lebih mudah untuk dipahami.             Tujuan dari tulisan ini tidak lebih dari sekedar berbagi terkait apa yang saya dapatkan di kelas dan saya kira penting untuk teman-teman ketahui dan amalkan. Seperti yang kita semua ketahui bahwa Al-‘Alaq ayat 1-5 adalah ayat pertama yang diturunkan Alloh kepada Rasul-Nya dan inilah permulaan dari perjalanan Rasulullah dalam mengemban tugas profetiknya di bumi ini. Hanya sebatas itu yang kita ketahui...

Sang Primata Bernama Rasis

Sang Primata Bernama Rasis Oleh: Hizba M.A             Beberapa pe k an terakhir ini isu diskriminasi ras menjadi diskursus hangat bagi masyarakat indonesia baik dari politikus, akademisi, mahasiswa bahkan pemuka agama. Sesungguhnya permasalahan diskriminasi ras sudah berlangsung sejak lama di indonesia bahkan dunia, tetapi hal ini kembali menjadi trend pasca tragedi pengrusakan bendera di depan asrama papua Surabaya oleh oknum penghuni asrama tersebut begitupun tulisan ini yang merupakan reaksi atas tragedi yang menimpa negeri ini. Pada tulisan kali ini saya tidak mengulas tragedi tersebut secara kronologis akan tetapi yang menjadi pembahasan kali ini ialah permasalahan diskriminasi ras yang masih terjadi di Indonesia dan pembahasan ini melalui pendekatan historis dan sosiologis lalu ditutup dengan mengangkat beberapa ayat Al-Qur’an dan sunnah sebagai landasan dalam upaya menghapus diskriminasi ras.    ...

Paradoks Kebencian

Sebuah sajak Paradoks Kebencian Oleh: Hizba M.A “ Untuk menjajah pikiran, kuasailah wacana” –Foucault Nikmat itu sudah tertutup oleh tagar Cuitan dangkal dari lubang nafsu yang paling dalam Tak lagi berisikan pikiran Hanya bisikan kebencian Nikmat apa itu? Kiraku, kau pun tak tahu itu apa. Angka, sejarah, dan budaya Menjadi alat sebagai dalih pembenaran. Pembenaran syahwat akan kebencian. Karena kau masih belum paham, Akan ku jelaskan agar kau tak jauh tenggelam. Nikmat itu adalah pikiran. Berpikir sebelum bertindak. Berpikir sebelum berucap. Berpikir sebelum bercuit. Sehingga apa yang keluar dari dirimu Adalah hasil pikiran dan perasaan. Bukan kebencian. Aku tak melarangmu berbicara. Aku tak melarangmu berpendapat. Bahkan aku suka dengan itu. Karena aku pun seperti itu. Aku tak membencimu karena memiliki nafsu. Karena itu pemberian Tuhan. Dan itu juga yang mampu membuatmu lebih baik dari malaikat. Aku sama s...

Kontekstualis yang Lupa Teks

Kontekstualis yang Lupa Teks Oleh: Hizba M.A Modernitas dan perkembangan zaman merupakan akar permasalahan dari tulisan ini. Namun, modernitas dan perkembangan zaman tidak bis a kita salahkan dan permasalahkan. Bagaikan angin laut yang tidak untuk dilawan akan tetapi untuk dimanfaaatkan ketika berlayar. Kemajuan zaman menuntut kita untuk berpikir lebih dalam, bekerja lebih keras, dan bertindak lebih bijak untuk menjaga keberlangsungan hidup umat manusia dan segala kebutuhannya dan di antara dari kebutuhan manusia ialah agama karena disitulah terdapat nilai-nilai yang tidak ditemukan dalam ilmu-ilmu yang lain yaitu etika, estetika, adab, dll yang mana dengan inilah manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Keberagamaan pada saat ini sedang me mbutuhkan kita untuk mengkontekstualkan ajaran agama pada kehidupan sehari-hari karena tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan zaman membawa perbedaan budaya pada zaman dulu dan masa kini. S ayangnya , akhir-akhir ini kita melihat bahwa...

Hilangnya Esensi

Hilangnya Esensi Oleh: Hizba M.A             “Tri Kompetensi Dasar merupakan tiga kompetensi fundamental yang wajib dimiliki oleh setiap kader yang meliputi dimensi religiusitas, intelektualitas, dan human itas.” Dalam tulisan ini, saya ingin menyampaikan beberapa opini yang berlandaskan dari realita yang terjadi dalam IMM FAI. Kita semua mengetahui bahwa sesungguhnya TriKoDa merupakan bekal seorang kader IMM sehingga cita-cita, visi, misi, dan tujuan dari IMM dan Muhammadiyah pada umumnya mampu tercapai dengan kontribusi para kadernya yang bergerak di dalam IMM. Sayangnya, hal ini tak mampu terwujudkan karena fondasi awal setiap anggota belum terbentuk dan bahkan mereka enggan untuk membentuk. Padahal tiga hal ini bukanlah tugas melainkan kebutuhan setiap anggota kader agar pergerakan yang dilahirkan memiliki esensi bukan hanya sekedar menampakkan eksistensi pada kampus bahwa IMM FAI masih ada. Jika kita memand...