Postingan

Catatan Hizba : Diskriminasi Rasial di Amerika

Catatan Hizba: Diskriminasi Rasial di Amerika Oke gais… keknya semua yang ku dapat dari nonton beberapa film trus juga ditambah brosing2 di internet, ada beberapa hal yang aku dapatkan terkati diskriminasi rasial yang mana tepatnya di amerika. Kan beberapa waktu lalu sampe saat ini kita digemparkan oleh isu Black Lives Matter dan ini biki aku kembali penasaran tentang asal-usul dari diskriminasi itu. Mungkin ini bias jadi opini doang, soalnya sumbernya dari beberapa film sama artikel2 di internet yg most of them yaaa Wikipedia hehe… disclaimer: tulisan ini cuma gambaran umum jangan jadikan referensi tulisan ilmiah apalagi skripsi hehe... Keknya biar gampang kita mahamin isu ini mending aku jelasin pake timeline gitu jadi dari era ke era aja (gampangnya tahun ke tahun lah…). Sebenernya tujuan aku nulis ini untuk diri sendiri biar gak lupa jadi bias review dr catatanku ini, tapi kalo temen-temen mo baca juga gpp (makanya cara nulisku kayak di chat gitu). Harapannya temen2 yg baca i...

Pengharapan

Pengharapan oleh: Hizba M.A “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.” -Ali bin Abi Thalib Satu hal yang sangat dibenci oleh setiap manusia ialah kecewa. Segala hal yang berujung pada kekecawa menjadi hal yang ditakuti sekaligus dibenci. Kekecewaan merupakan resiko terburuk yang berada di penghujung perjalanan kehidupan seseorang yang terkadang mmpu membuat seseorang jatuh dalam keterpurukan. Usaha yang diperjuangkan sia-sia seakan tak bernilai. Segala asa, rasa dan karsa terbang terbawa oleh angin. Angan dan ingin tak lagi hadir dalam pikir. Bagaikan bencana yang tidak masuk dalam daftar rencana. Sakit, perih, dan pelik bahkan ada dari mereka yang gila karena kecewa. Pada dasarnya semua kekecewaan itu berawal dari sebuah pengharapan. Harapan akan hadirnya kesempurnaan. Manusia dengan segala ketidaksempurnaannya membuat mereka terpaksa untuk berharap agar kebutuhan terpenuhi dan keinginan terwujud...

Kuliah, buat apa!?

Kuliah, buat apa!? oleh: Hizba Muhammad Abror “Alarm jam delapan pagi karena jam sepuluh kau isi absensi” -Hindia Entah apa yang merasuki isi kepala dan hati para kawan-kawan mahasiswa. Bangun pagi setelah larut begadang dengan segala ‘kesibukannya’. Ada yang berjalan kaki, sepeda, motor, bahkan mobil(bagi yang ‘mampu’) menuju gerbang kampus yang sudah terbuka sejak jam enam pagi. Pemandangan yang menyejukkan . S eiring kendaraan yang melintas ada pertanyaan yang terlintas. “untuk apa sebenarnya saya kuliah?”. Sembari menyeruput kopi hangat di Motekar , satu per satu ku-list apa yang kudapat selama ini di FAI(Fakultas Agama Islam). Pengetahuan? Seingatku, semua itu hilang tepat setelah nilai terpampang di laman KRS online. Ilmu agama? Juga demikian. Akhlak? Apalagi yang ini. Gak mungkin. Haha.~ Tak terasa sudah satu jam kuhabiskan waktu dengan pikiran yang masih berkelindan. Di lobby(tempat nunggu dosen) kulihat para mahasiswa berambut klimis dan para mahasiswi yang angg...

Pelanggaran HAM dan Ajaran Islam

Pelanggaran HAM dan A jaran Islam oleh Hizba Muhammad Abror, anggota Bidang TKK PK IMM FAI UMY “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” -QS. Ali-Imran 110 Hak asasi manusia sejak awal digaungkannya menjelaskan bahwa HAM adalah hak yang melekat bagi setiap manusia yang meliputi hak hidup, kepemilikan, dan berekspresi. John Locke mengatakan bahwa hak asasi manusia ialah hak yang dimiliki oleh seseorang secara alamiah. Hak ini meliputi hak atas kebebasan, kesamaan dan hak menyatakan pendapat.   (Budiardjo, 2008) sejak kelahirannya yang mana secara pragmatis bahwa hak asasi manusia ini di deklarasikan sebagai bentuk perlwanan dan pembatasan atas kekuasaan pemerintah melihat bahwa penguasa pada saat itu bertindak ...

Politik Kampus: Takhayul Politik Nilai

Politik Kampus: Takhayul Politik Nilai Oleh: Hizba M.A "Sayangnya saat ini, politik nilai yang diagung-agungkan oleh mahasiswa hanyalah takhayul. Nilai yang seharusnya menjadi  bargaining power  bagi tiap partai jatuh dan terhalang. Konsolidasi tak menentu, tanpa gagasan yang tentu, lalu diskursus hanya dipenuhi sesebaran aib lawan." Mahasiswa. Mereka yang mendesak Bung Karno untuk proklamasi dan mereka juga yang melengserkan Pak Harto lalu mencetuskan reformasi. Akal, nalar, dan naluri membuat mahasiswa tetap tegak dengan idealismenya yang tak goyah dengan berbagai desakkan kepentingan. Saya mengatakan inilah yang disebut pikiran otentik dari rasio dan rasa yang kokoh di atas idealisme. Politik nilai, adalah politik yang murni sebagaimana awal mula lahirnya politik dari yunani seperti yang dicontohkan oleh para filsuf seperti plato dan aristotle. Yang murni hanya untuk maslahat bersama. Siasat yang disusun dan dijalankan untuk mendistribusikan keadilan hingga l...

Filososfi Al-Alaq 1-5: Seruan pada Gerakan Literasi

F ilosofi Al-‘Alaq 1-5: Seruan pada Gerakan Literasi Oleh:    Hizba M.A             Tulisan ini terinspirasi dari materi Tafsir Qur’an-Hadits Pendidikan beberapa hari yang lalu pada prodi Pendidikan Agama Islam yang diampu oleh Pak Fajar Rachmadhani. Bahkan hampir dari semua isi dalam tulisan ini merupakan apa yang disampaikan beliau pada hari itu. Dan saya hanya menuliskan serta sedikit menambahkannya secara terstruktur agar lebih mudah untuk dipahami.             Tujuan dari tulisan ini tidak lebih dari sekedar berbagi terkait apa yang saya dapatkan di kelas dan saya kira penting untuk teman-teman ketahui dan amalkan. Seperti yang kita semua ketahui bahwa Al-‘Alaq ayat 1-5 adalah ayat pertama yang diturunkan Alloh kepada Rasul-Nya dan inilah permulaan dari perjalanan Rasulullah dalam mengemban tugas profetiknya di bumi ini. Hanya sebatas itu yang kita ketahui...

Sang Primata Bernama Rasis

Sang Primata Bernama Rasis Oleh: Hizba M.A             Beberapa pe k an terakhir ini isu diskriminasi ras menjadi diskursus hangat bagi masyarakat indonesia baik dari politikus, akademisi, mahasiswa bahkan pemuka agama. Sesungguhnya permasalahan diskriminasi ras sudah berlangsung sejak lama di indonesia bahkan dunia, tetapi hal ini kembali menjadi trend pasca tragedi pengrusakan bendera di depan asrama papua Surabaya oleh oknum penghuni asrama tersebut begitupun tulisan ini yang merupakan reaksi atas tragedi yang menimpa negeri ini. Pada tulisan kali ini saya tidak mengulas tragedi tersebut secara kronologis akan tetapi yang menjadi pembahasan kali ini ialah permasalahan diskriminasi ras yang masih terjadi di Indonesia dan pembahasan ini melalui pendekatan historis dan sosiologis lalu ditutup dengan mengangkat beberapa ayat Al-Qur’an dan sunnah sebagai landasan dalam upaya menghapus diskriminasi ras.    ...